Aman Digital

Deepfake: Jangan Percaya Hanya Karena Ada Wajah dan Suara

  • Tim Konten, Media & Desain — Lentera Digital
  • 2 menit baca
Sampul artikel: Deepfake: Jangan Percaya Hanya Karena Ada Wajah dan Suara

Deepfake dapat meniru wajah dan suara. Kenali mengapa verifikasi lintas kanal lebih penting daripada percaya pada tampilan visual.

Dulu, video dan rekaman suara sering dianggap bukti yang sulit dibantah. Kini, perkembangan deepfake membuat anggapan itu tidak lagi aman. Teknologi AI dapat meniru wajah, suara, ekspresi, bahkan gaya bicara seseorang dengan tingkat kemiripan yang semakin tinggi.

Pemberitaan September 2026 menyoroti penggunaan deepfake dalam penipuan digital, termasuk peniruan suara kerabat yang meminta transfer dana mendesak dan pemalsuan identitas melalui video. Tanda seperti gerakan bibir yang tidak sinkron, suara tidak wajar, atau akun anonim dapat menjadi petunjuk awal, tetapi bukan satu-satunya dasar pemeriksaan.

Masalah utama deepfake bukan hanya kecanggihan teknologinya, melainkan kecenderungan manusia mempercayai bukti visual tanpa memeriksa konteks. Pelaku biasanya memanfaatkan kondisi emosional: panik karena keluarga disebut mengalami kecelakaan, takut karena pesan mengatasnamakan aparat, atau tergoda oleh janji bantuan dan keuntungan besar.

Setiap keluarga perlu memiliki protokol verifikasi. Jika ada panggilan darurat yang meminta uang, jangan langsung transfer. Hubungi orang tersebut melalui nomor lain, ajukan pertanyaan pribadi yang tidak mudah diketahui publik, atau lakukan panggilan video spontan. Jangan pernah membagikan OTP, PIN, kata sandi, atau foto identitas hanya karena lawan bicara terlihat meyakinkan.

Keaslian konten tidak boleh dinilai hanya dari tampilannya. Literasi digital berarti memeriksa sumber, konteks, tujuan, dan dampak sebelum percaya atau bertindak.

Sumber: RRI, 10 September 2026 — rri.co.id/bengkulu/iptek/2718756/waspadai-bahaya-manipulasi-teknologi-deepfake-di-era-digital

← Semua artikel