Menutup Kesenjangan Digital Berarti Membuka Kesempatan
Akses internet belum cukup. Literasi digital yang praktis membantu masyarakat belajar, bekerja, berusaha, dan mengakses layanan secara aman.
Konektivitas belum otomatis menghasilkan inklusi. Seseorang dapat memiliki telepon pintar dan akses internet, tetapi belum tentu mampu menggunakan layanan digital untuk belajar, bekerja, mengakses layanan publik, melindungi diri dari penipuan, atau mengembangkan usaha.
Pada 11 September 2026, laporan mengenai kesenjangan digital menyoroti bahwa 38% penduduk dunia masih belum terhubung ke internet meski tinggal di wilayah yang terjangkau jaringan pita lebar seluler. Rekomendasi yang muncul tidak hanya menekankan perluasan jaringan, tetapi juga penguatan pemahaman praktis tentang AI, keamanan daring, dan verifikasi informasi sebagai kompetensi dasar.
Pelajaran bagi Indonesia jelas: program literasi digital tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau perangkat yang dibagikan. Keberhasilan perlu dilihat dari kemampuan peserta menyelesaikan kebutuhan nyata secara mandiri. Contohnya, membuat akun layanan publik dengan aman, membedakan pesan penipuan, menggunakan pembayaran digital, membuat konten promosi usaha, atau mendampingi anak memakai internet.
Pendekatan berbasis komunitas penting karena setiap kelompok memiliki kebutuhan berbeda. Keluarga membutuhkan pengasuhan digital; pelajar membutuhkan verifikasi informasi; UMKM membutuhkan keamanan transaksi; lansia membutuhkan pendampingan layanan digital.
Literasi digital harus menjadi jembatan kesempatan. Internet bukan hanya ruang konsumsi konten, tetapi ruang untuk tumbuh, bekerja, belajar, dan berpartisipasi secara aman.
Sumber: ANTARA, 11 September 2026 — antaranews.com/berita/5736069/menutup-kesenjangan-literasi-digital-berpotensi-mendorong-pdb-global-hingga-triliunan-dolar
